Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerpen 8: Lolo Menjeng & Bunga Jolala

Sudah 2 bulan ibuku terbaring di kasur. Aku kipas-kipas wajahnya dengan sobekan kardus. Siang itu benar-benar terasa panas. Rumah kami hanya kepang tipis yang telah berumur. Ada puluhan lubang yang menentukan kasta kami. Kami tidak mampu membeli kepang, apa lagi membawa ibu ke puskesmas.

Ibuku deras keringatnya. Wajahnya pucat tak sehat. Dari bibir ke bibir, konon, ibuku terkena santet dari tetangga desa. Memang ibuku sempat punya musuh akhir-akhir ini. Ia menampar nenek tua yang sedang meminta-minta. Kemudian nenek itu pergi tanpa sepatah kata pun.

Paginya ibuku jatuh sakit. Tak ada pilihan lain selain merawatnya di rumah. Para tetanggaku adalah mayoritas kasta rendah. Jadi tidak mungkin aku meminjam uang untuk biaya pengobatan ibuku.

Aku sempat penasaran dengan omongan tetangga. Katanya ibuku kena santet. Aku harus memastikannya langsung kepada si ahlinya.

“Bang Mumun, bagaimana ini? Apa kau punya solusi?” tanyaku kepada bang Mumun. Seorang para normal yang telah ratusan kali menyembuhkan penyakit abnormal.

Dia menyipitkan matanya sembari meraba-raba pikirannya.

“Ibumu kena santet.”

Aku tercengang. Ternyata benar apa yang dikatakan para tetangga.

“Santet apa? Dari mana?” tanyaku lagi penasaran.

“Ibumu itu, pernah berurusan dengan Lolo Menjeng.”

“Lolo Menjeng?”

“Iya, Lolo Menjeng, ia adalah kekasih perempuan tua tetangga desa sebelah. Mungkin dia tidak terima kekasihnya di tampar oleh ibumu. Apa benar ibumu pernah menampar perempuan tua?”

“Iya benar. Beberapa bulan lalu ia pernah menampar nenek tua. Kemudian paginya ia jatuh sakit.”

“Benar dugaanku, ia ditempel oleh Lolo Menjeng.”

“Tapi ngomong-ngomong, Lolo Menjeng itu makhluk apa, bang Mun?” tanyaku lagi penasaran.

“Dia adalah makhluk tak kasat mata. Suka mencari anak kecil. Bahkan bisa menikahi manusia dan mengikutinya hingga tua.” jawab bang Mumun. Ia menghela nafas dan meneruskan bicaranya.

“Tidak semua orang memiliki keistimewaan ini. Kalau Lolo Menjeng sudah menempel di tubuh seseorang, ia akan tetap menempel seterusnya hingga mati. Ia akan cinta mati dengan kekasihnya.”

“Bagaimana wujudnya?”

“Tidak semua orang bisa melihatnya. Hanya orang-orang tertentu yang terbuka mata batinnya. Seperti aku contohnya. Bagiku, ia sangat menyeramkan dibandingkan dengan setan-setan yang lain.”

“Lalu?” tanyaku semakin penasaran.

“Dia tinggi besar. Wajahnya rata. Tak punya mata, hidung apalagi mulut. Lehernya panjang. Rambutnya panjang sampai mata kaki. Tangannya delapan. Ia tak punya kaki. Seperti laba-laba.”

Ia menghela nafas lagi dan meneruskan bicaranya.

“Saat kekasihnya kau ganggu. Ia akan marah dan menempel ke tubuhmu. Ia akan mengacaukan pikiranmu hingga tubuhmu tak berdaya.”

Kami terdiam sesaat.

“Apakah ibuku bisa diobati?”

Dia terdiam sejenak sembari mengusap-usap jenggotnya.

“Tidak mungkin, itu akan sangat berbahaya.”

“Maksudnya?”

“Sampai saat ini tidak ada dukun manapun yang berani berurusan dengan Lolo Menjeng. Melawan Lolo Menjeng sama saja cari mati.”

Ucapan bang Mumun membuatku semakin takut. Tetapi aku lebih takut jika ibuku terus sakit-sakitan seperti ini.

“Sebahaya itukah Bang?”

Ia menatapku sebentar. Kemudian mengangguk.

“Jelas! Air liurnya bisa bikin lumpuh orang. Dukun seberang lor dulu pernah. Ia melawan Lolo Menjeng dengan seluruh kekuatannya, tetapi paginya, kedua kakinya lumpuh. Tangan kirinya juga lumpuh. Sekarang tubuhnya melarat sembari pasrah menunggu ajal menjemput”

Kami diam sejenak.

“Lalu apa solusinya bang Mun. Tolong bang, aku tak tega melihat ibuku sakit-sakitan.”

“Ada satu bunga yang bisa mengusirnya, namanya Bunga Jolala. Bunga itu tumbuh dari tanaman purba langka. Tumbuhnya cuma di daerah gunung Sindoro. Kau cari dipuncak itu, namanya kuil Anuspati, kuil kosong yang sudah tak berpenghuni. Kau masuk saja. di situ ada peti mati yang sudah tak berpenghuni, tepat di dalamnya ada tanaman langka yang berbunga, itulah bunga Jolala.”

“Bunga Jolala?”

“Iya, Bunga Jolala” ujarnya meyakinkanku lagi.

“Terima kasih, bang Mumun. Aku akan berangkat besok.” Aku beranjak berdiri dan berpamitan.

“Tapi!” Potong bang Mun menghentikan langkah kakiku. Aku menoleh ke arahnya.

“Kau harus bawa bekal darah ayam cemani segar. Bungkus dengan plastik, kemudian lemparkan ke penjaga kuil Anuspati apabila menampakkan diri.”

“Penjaga kuil?”

“Iya, penjaga kuil. Namanya Buto Ijo. Ia akan menampakkan diri, lalu lemparlah darah itu. Jika tidak, ia tidak akan membiarkanmu pulang dengan bunga itu.”

“Baik bang Mun. Terima kasih untuk semuanya.”

Paginya aku pinjam ayam cemani tetanggaku. Aku ambil darahnya dan kemudian kubungkus dengan plastik sesuai permintaan bang Mun.

Aku titipkan ibu dengan tetangga dekat. Aku bergegas ke gunung Sindoro. Kebetulan jaraknya hanya 50 kilo meter dari rumahku. Aku menanjak sendirian, dengan bekal seadanya.

Aku berani-beranikan kala itu. Hawanya cukup angker. Aku seperti dikuti makhluk tak kasat mata. Tetapi aku tak menggubrisnya.

Aku lebih takut jika turun dari gunung tak membawa hasil apa-apa. Itu berarti, aku membiarkan mati ibuku di sisa-sisa umurnya.

Waktu di bawah, aku sempatkan tanya-tanya oleh sesepuh gunung ini. Bagaimana rutenya, gangguannya, dan di mana lokasi kuil Anuspati itu.

“Kau harus cari pohon tertinggi di gunung ini. Tepatnya di bagian barat gunung ini. Kemudian di bawahnya akan ada bangunan putih tua. Di situlah kuil Anuspati yang konon disembunyikan oleh bangsa gaib.”

Ujar sesepuh gunung ini. Aku mengingatnya benar-benar. Aku cari pohon itu ke arah barat. Selang 1 jam, aku menemukan pohon itu. Dan beliau tidak bohong, di bawahnya memang ada bangunan putih tua berbentuk candi kecil.

Aku mendekati pohon itu. 

“Ini kan bukan kuil, tetapi cuma candi putih peninggalan kerajaan dulu.” Fikirku dalam hati.

“Apakah kakek tua itu bohong?” tanyaku dalam hati.

Tiba tiba pundakku di tepuk oleh tangan yang besarnya empat kali lipat dari tanganku. Aku sangat terkejut. Aku terjatuh tersungkur. Aku menatap makhluk itu. Ia besar dan hijau. Rambutnya kumal sampai leher.

“Siapa kau! Kenapa menggangguku!”

Tubuhnya sangat besar dan tinggi. Aku benar-benar ketakutan kala itu. Sumpah, aku benar-benar ketakutan. Setelah kuingat-ingat, mungkin ini yang namanya Buto Ijo.

“Kau ingin apa?”

Ucapnya sembari menampakkan wajahnya yang super seram.

“Aku mencari Bunga Jolala.”

Dia terdiam. Tetapi diamnya membuatku takut setengah mati. Aku ingat darah cemani itu. Aku lemparkan ke arahnya. Seketika tubuhku lemas, lalu pelan-pelan aku pingsan.

Selang beberapa saat aku siuman. Tetapi pemandangannya beda kali ini. Kuingat tadi di bawah pohon besar ini hanya candi putih. Tetapi sekarang aku melihat bangunan besar berwarna putih. Bentuknya seperti Wat Rong Khun, kuil putih di negara Thailand. Sangat besar.

Buto Ijo itu tak tampak lagi. Mungkin dia mengizinkanku masuk ke dalam kuil tersebut. Aku bergegas masuk dan mencarinya. Ternyata tidak sulit. Aku menemukan peti itu dan membukanya. Kulihat bunga indah berwarna gradasi ungu dan merah. Aku petik satu dan bergegas pulang.

Sesampai rumah. Aku merebus bunga itu sesuai perintah Bang Mun. Aku minumkan rebusan bunga itu ke ibu. Selang beberapa hari, kondisi ibuku mulai membaik.

Post a Comment for "Cerpen 8: Lolo Menjeng & Bunga Jolala"